Suatu Sore di Singapura

Suatu hari di bulan September 2018, setelah sampai untuk pertama kali di negara tetangga Singapura di pagi buta dan menitipkan barang di hostel mungil kami, kami bergegas melangkahkan kaki mencari pengganjal perut di Little India. Setelah merasakan sarapan pertama di negeri orang, kami melanjutkan untuk berkelana di area sekitar Little India itu dan menuju Orchard Road dengan MRT. Berkeliling sejenak disana untuk membeli beberapa pernak-pernik, lalu kembali menaiki MRT ke tempat terakhir di hari itu: Pulau Sentosa. Kami berjalan dari Vivo City mall menuju tempat rekreasi yang terkenal di negara itu. Tak lupa berfoto di depan taman hiburan ikoniknya (Universal Studio) walaupun belum berniat dan belum bermodal untuk masuk :). Setelah itu kami memaksimalkan sisa-sisa energi hari itu dengan berkeliling disana, sambil sesekali mengamati orang-orang yang sibuk berlalu lalang, menikmati senja di pantai berpasir putih dan yah merenung dan mengobrol.
Tak terasa waktu menjelang malam, hampir pukul 7 waktu itu (dan langit masih lumayan terang!) kami memutuskan untuk kembali menuju jalan yang kami lalui ketika datang. Ternyata disambut oleh langit cantik dengan matahari yang sedang terbenam, sunset pertamaku bukan di Indonesia hehe. Lalu? Kami teringat belum pesan tiket bus menuju Malaysia untuk esok hari, seketika energi kembali terisi untuk mencari tiket sebelum istirahat di hostel. Setelah itu? Wah, penuh dengan petualangan. Uang pas-pasan untuk beli tiket bus yang ternyata seharusnya lebih murah beli online dari Indonesia, juga tidak sengaja tersesat menuju ke hostel dan akhirnya berjalan kaki yang lumayan jauh sambil menikmati suasana malam Singapura yang sangat sepi dan tenang. Super kaget karena di Indonesia jam 8-9 malam masih sangat ramai oleh pedagang kaki lima dan orang-orang nongkrong di pinggir jalan sedangkan disana 180 derajat bedanya. Hanya 1-2 orang yang kami lihat, itupun menggunakan sepeda. Selebihnya hanya mobil-mobil yang lewat. Jadi tiba-tiba kangen melihat abang nasi goreng wkwk. Eits, ternyata cerita masih berlanjut. Sampai di hostel dengan kaki yang pegal dan perut terisi penuh (sempat mampir dulu beli makan di restoran India) hampir tengah malam pula, kami tidak dapat kamar! Kok bisa? Iya, resepsionis hostel tutup jam 11 malam dan kami tidak membaca di aplikasi pemesanan hostel. Alamak, semua usaha sudah dilakukan tapi tidak ada hasil, akhirnya kami malam itu tidur di sofa hostel dengan satu orang turis lain yang juga datang kemalaman. Sudah capek, kecewa, bingung, tapi ya dinikmati saja. Tidurlah malam itu dengan sangat lelap wkwkw.










Comments
Post a Comment